Dampak FGM Terhadap Kesehatan Wanita

HDI-ers, dalam rangka memperingati Hari Intoleransi Terhadap Mutilasi Organ Intim Wanita Internasional, hari ini, 6 Februari 2017, Hello Doctor ingin mengajak Anda pada pembahasan mengenai dampak Female Genital Mutilation (FGM) atau Mutilasi Organ Intim Wanita ditinjau dari segi kesehatan.

Seperti kita telah ketahui, di dunia terdapat beberapa negara yang sebagian masyarakatnya mempraktikkan FGM pada remaja putri hingga wanita dewasa. Praktik FGM diterapkan di beberapa negara karena campuran faktor budaya, agama dan sosial dalam keluarga dan masyarakat.

Siapa saja yang berisiko mengalami FGM?

Prosedur FGM sebagian besar dipraktikkan pada gadis-gadis muda belia, terkadang antara bayi dan usia 15 tahun dan kadang-kadang pada wanita dewasa. Di Afrika, lebih dari tiga juta anak wanita telah diperkirakan berada pada risiko FGM per tahunnya.

Lebih dari 125 juta remaja putri dan wanita yang hidup saat ini telah dipotong organ intimnya di 29 negara di Afrika dan Timur Tengah di mana FGM terkonsentrasi.

Praktik FGM ini paling umum terjadi di wilayah barat, timur dan utara-timur Afrika, di beberapa negara Asia dan Timur Tengah dan di antara para masyarakat pendatang dari daerah-daerah tersebut.

Prosedur

FGM diklasifikasikan menjadi empat jenis prosedur utama, yakni:

  • Klitoridektomi: pengangkatan klitoris secara parsial/sebagian atau total/keseluruhan (bagian dari organ intim wanita yang kecil, sensitif dan dapat berereksi) dan dalam beberapa kasus yang sangat jarang terjadi, hanya preputium atau kulup (lipatan kulit di sekitar klitoris).
  • Eksisi: penghilangan atau pengangkatan secara parsial/sebagian atau total/seluruh klitoris dan labia minora (bibir kecil), dengan atau tanpa eksisi labia majora (labia majora adalah “bibir besar” yang mengelilingi V).
  • Infibulasi: penyempitan lubang V melalui pembentukan segel penutup. Segel dibentuk dengan memotong dan reposisi bagian dalam atau luar labia (bibir), dengan atau tanpa pengangkatan klitoris.
  • Lainnya: semua prosedur berbahaya lainnya terhadap alat kelamin wanita untuk tujuan non-medis, misalnya menusuk, menindik, mengiris, menggores dan membakar area genital.

Tidak bermanfaat dan berbahaya bagi kesehatan

FGM tidak bermanfaat bagi kesehatan dan malah merugikan gadis belia dan wanita dewasa dalam banyak hal. Ini melibatkan pengangkatan dan perusakan organ intim wanita yang sehat dan normal dan mengganggu fungsi alami tubuh mereka.

Komplikasi mendadak yang diderita korban FGM, di antaranya, sakit parah, syok, perdarahan, tetanus atau sepsis (infeksi bakteri), retensi air seni, luka terbuka di daerah organ intim dan cedera jaringan organ intim di dekatnya.

Dampak jangka panjangnya di antaranya:

  • Infeksi berulang kandung kemih dan saluran kemih;
  • Kista;
  • Infertilitas atau kemandulan;
  • Peningkatan risiko komplikasi persalinan dan kematian bayi saat lahir;
  • Kebutuhan untuk operasi nantinya. Misalnya, prosedur FGM yang jenis segel atau penyempitan pembukaan V (tipe 3 di atas) harus dipotong terbuka kemudian untuk memungkinkan hubungan intim dan melahirkan. Kadang-kadang dijahit lagi beberapa kali, termasuk setelah melahirkan, maka wanita itu harus melalui prosedur operasi pembukaan dan penutupan yang harus diulang.

Pada akhirnya, WHO (World Health Organization) menyatakan bahwa FGM juga melanggar hak asasi manusia (HAM) sehingga organisasi kesehatan dunia itu pun telah melakukan banyak upaya untuk menghentikan praktik FGM di berbagai negara di dunia.

Artikel ini telah ditelaah dan disetujui oleh dr. Joyce Sopacua dari Hello Doctor Indonesia.

 

Tidak memiliki aplikasi Hello Doctor? Jangan sampai ketinggalan! Unduh aplikasi sekarang!